Friday, April 25, 2008
Ke KRB Lagi
Bulan April ini Ayah dan Bunda ambil cuti 2 hari (Kamis dan Jumat) untuk ajak Dhiyaa dan Akhyaar jalan-jalan. Maunya sih tamasya ke Bali. Tetapi, keinginan ke Bali harus dipending dulu karena persiapan yang kurang matang. Maybe next time kalau dana dan waktu persiapannya cukup bisa jalan-jalan ke Bali ber-4. Asik kali ya main-main di pantai? :)
Anyway, hari Rabu malam Bunda sudah siapkan bawaan anak-anak. Dhiyaa dan AKhyaar sudah di-brief sama Bunda bahwa kita akan jalan-jalan ke Taman Safari. But before that, kita akan singgah dulu di Kebun Raya Bogor (KRB). Hari Kamis pagi kita sudah siap. Setelah anak-anak (dan Ayah serta Bunda) makan pagi, kita mulai jalan-jalannya. Jam 8 pagi tol TB Simatupang di hari kerja lumayan padat. Setelah lewat pintu keluar Fatmawati, jalan lengang sekali. All the way to Bogor. Di tengah jalan Akhyaar sempat tidur. Kalau Dhiyaa nggak tidur, masih asik ngobrol dan lihat keluar. Jam 9 kurang kita sudah sampai di Bogor. Ternyata kalau hari kerja hanya pintu 1 yang dibuka. Kebetulan, jadi Dhiyaa dan Akhyaar bisa lihat rusa di Istana Bogor dari luar. Dhiyaa dan Akhyaar kayaknya masih kaget lihat rusa yang lumayan banyak jumlahnya (mungkin mereka sedang membayangkan punya jumlah rusa yang sama dan dilepas di taman komplek? :) ).
Sebelumnya Dhiyaa dan Akhyaar pernah berkunjung ke KRB. Tapi waktu itu Akhyaar masih bayi banget, masih 2 bulan. Jadi waktu tahun lalu yang minta beli bola cuma Dhiyaa. Tapi tahun ini keduanya minta beli bola. :) Ternyata harganya masih sama, Rp. 8,000 per buah. Oh ya, sebetulnya mungkin yang paling seneng jalan ke KRB pagi hari adalah Ayah. It's just so great. Tamannya luas banget dan cuacanya sangat cerah. Di KRB kita main bola sampai Dhiyaa cape. Kalau Akhyaar? Nggak bisa di-stop! Mesti diangkat dan ditaruh di kursi taman untuk makan sebelum kita lanjut ke Taman Safari. Oh ya, hari ini KRB nggak ramai. Cuma kita dan beberapa group playgroups dan SD.
Kita jalan dari KRB sekitar jam setengah sebelas. Di Taman Safari juga nggak terlalu banyak mobil. Sebelum beli tiket kita sempetin dulu beli beberapa ikat wortel buat diberikan ke hewan (which i regreted later, sorryyy......). Di dalam Taman Safari, karena sepi, kita bisa berlama-lama lihat hewan-hewan. Di beberapa tempat hewan yang kurang berbahaya (karena Ayah pikir semua hewan berpotensi untuk melawan, heheheh), kita buka jendela. As always, beberapa hewan mencoba memasukkan kepalanya ke dalam mobil untuk minta wortel. Dhiyaa lebih berani dari tahun lalu. Kalau Akhyaar masih malu-malu kucing. Kalau nggak ada hewan yang mendekat, Akhyaar berdiri dan berani lihat-lihat. Kalau ada yang mendekat, Akhyaar langsung deket-deket sama Bunda. :) Setelah puas lihat hewan-hewan, giliran Ayah dan Bunda yang makan siang. Kemudian kita lanjutkan dengan foto-foto bersama gajah dan naik kereta gantung. And then it rained. Beautiful!
Keluar dari Taman Safari, Ayah iseng menawarkan Bunda untuk lihat kebun teh di Puncak. Akhyaar dan Dhiyaa tentunya sudah tidur, mungkin mereka capek. Dari Puncak keisengan berlanjut dengan terus menyetir ke Cianjur. Sampai Cianjur terus lagi sampai Bandung. Jadi deh, jam setengah tujuh malam kita sampai Bandung. Taman Safari Bandung lewat Puncak dan Cianjur bisa dibilang lama, hampir lima jam. Anyway, di Bandung kita berhenti sebentar untuk istirahat dan makan malam sama anak-anak. Dari Bandung kita memutuskan pulang karena besoknya (JUmat) kita mau jalan-jalan ke Ancol. Dari Bandung sampai Bintaro lewat tol Cipularang? Just 2.5 hours. Very nice. Alhamdulillah kali ini, walaupun sudah nyetir lama sekali, Ayah nggak ngantuk. Maybe because I was very happy. :)
To be continued.....
Saturday, March 22, 2008
Long Weekend March 2008
Still on day 1. Dikunjungi Oom and Tante serta Maliq. Oh ya, di sini juga ada Eyang Kung and Eyang Ti, tapi nggak kelihatan di foto ini. Semua yang datang bawa oleh-oleh buat Bunda. Maklum, hari pertama ini hari Ultahnya Bunda. Tentu saja, Maliq itu yang paling kiri.
Berfoto dengan Ayah. Mirip nggak? :)
Coba-coba foto close up Dhiyaa. Hasilnya? Dhiyaa basically memang pemalu di depan kamera. Susah sekali minta Dhiyaa senyum di depan kamera. Ini salah satu contoh hasil 'terbaik'. :)
Mengunjungi Eyang Kung and Eyang Ti di workshopnya Eyang Ti. Di foto ini Akhyaar sedang dilatih balapan sama Eyang Kung. Pagi ini ketika Akhyaar dipakaikan setelah atas bawah biru Ayah langsung berpikir. Weh, keren sekali hari ini. Sangat maskulin. But by the way, kapan dan siapa yang beliin bajunya? :)
Nggak mau kalah, Dhiyaa juga berpose dengan Eyang Ti-nya, yang selalu nurut kalau Dhiyaa telepon dan minta aksesori berbau Mickey Mouse. Ya ampun!
Akhyaar lagi nge-fans berat sama yang namanya kuda-kudaan, meniru suara macan, main petak umpet dan kejar-kejaran sama kakaknya. My lovely boy! I love you!
Mohammad Hafidz S., Nyimas Dhiyaa H. dan Kemas Akhyaar H.
Hello Bunda! Shoot me. Now!
Berpose sejenak di depan rumah sebelah ke rumah Ayah dan Umi Haji.
Friday, March 21, 2008
Happy Birthday, Bunda!
Semoga Bunda terhibur oleh 'Happy Birthday Song' dan lagu 'Selamat Ulang Tahun' dari Dhiyaa, plus tepuk tangan yang meriah dari Akhyaar. :)
Semoga hadiah Ayah kemarin berkesan. :)
Ayah, Dhiyaa and Akhyaar.
Video Klipnya Ayat-Ayat Cinta
Saturday, March 15, 2008
Pulang kampung lihat......
Hari ini Dhiyaa datang ke class trial di Al-Fath Serpong. Dhiyaa menunjukkan progress yang baik. Dulu, kalau masuk kelas baru, di sekolah manapun, Dhiyaa pasti nangis sejadi-jadinya, walaupun Bunda ikut ke dalam kelas. Namun seiring waktu, Dhiyaa sepertinya tambah confidence dan berani. Kemarin-kemarin Dhiyaa sudah nggak nangis tapi minta Bunda ikut temenin. Hari ini lebih baik lagi. Ketika bertemu dengan guru-guru di depan kelas, Dhiyaa langsung menyodorkan tangan untuk cium tangan. Selanjutnya Dhiyaa mau ikut Ibunda guru untuk masuk kelas dan join dengan yang lain. Wah, betapa senang dan bangganya Ayah hari ini. Setelah Dhiyaa masuk kelas, kami main di luar dengan Akhyaar. Akhyaar senang karena banyak mainan, terutama mainan kereta kayu yang bisa ditarik-tarik. :) Kami main dengan Akhyaar sampai Dhiyaa selesai dengan kegiatannya di dalam kelas.
Dari Al-Fath kita ke tempat Umi dan Ayah Haji. Di rumah kakek dan neneknya ini Dhiyaa bisa makan lebih banyak. Mungkin karena menunya beda dengan yang di rumah ya? Kalau Akhyaar? Akhyaar sampai saat ini masih dengan diet yang terkontrol. Menunya? Ikan + Sayur. Everyday? Yes.
Di Klender Dhiyaa selalu main dengan sepupunya Farrel. Pokoknya kemana Farrel pergi dia pasti ikut. Udah kayak buntut aja. Kalau Dhiyaa sibuk ikut kemana Farrel pergi, Akhyaar punya kebahagiaan sendiri dengan space yang luas buat jalan-jalan dan bermain. Space yang luas = bisa main bola sama Ayah.
As usual, kalau dari Klender jam 7:30 kita sudah siap-siap pulang supaya jam 8 bisa start dengan harapan sampai rumah sekitar jam 9. Di perjalanan pulang Akhyaar sudah tertidur sebelum kita masuk tol dalam kota. Sedangkan Dhiyaa asik bercerita kalau dia mau pulang kampung. What??? Mungkin Dhiyaa tahu istilah pulang kampung dari nanny-nya yang kadang pulang kampung. Memang sih setiap kali ada yang pulang kampung Dhiyaa selalu tanya kemana? Nanny-nya selalu jawab mau pulang kampung. Kalau Dhiyaa tanya lagi mau apa, nanny-nya jawab kalau dia pulang kampung mau lihat beberapa hal seperti sawah dan lain lain.
Nah waktu di perjalanan pulang Dhiyaa bilang mau pulang kampung, Ayah bertanya ke Dhiyaa: "Kamu mau apa pulang kampung?". Kemudian Dhiyaa menjawab: "Dhiyaa mau lihat sapi, bebek, sawah, kerbau, kodok..."
Anak-anak memang pengingat ulung dan spontan.
Friday, March 07, 2008
Aktor cilik Bunda
Akhyaar lain lagi. Akhyaar bisa mengunyah lebih cepat dari Dhiyaa. Tapi tentu ada tantangan. Akhyaar sangat tidak kooperatif membuka mulut untuk suapan berikutnya. Selalu seperti itu, khususnya kalau sudah suapan-suapan terakhir. Dan Akhyaar bisa tertidur! Ya, sudah sering sekali terjadi Akhyaar tidur di akhir suapan-suapannya. Kejadian-kejadian tidur di akhir suapan ini biasanya diawali dengan kurang responsif-nya object (red: Akhyaar), mata mulai terlihat sayu, menguap dan tiba-tiba 'plek', kepalanya terkulai, mata tertutup. Tidur. Kalau Akhyaar sudah tertidur, tentu acara makan selesai dan Akhyaar dipindahkan ke tempat tidur. Namun, biasanya kurang dari lima menit Akhyaar bangun dan akan terlihat sangat segar dengan senyum lebarnya. Kemudian? Main seperti biasa!
Aktor cilik mulai beraksi
Sunday, March 02, 2008
ABC, 123
Akhir minggu ini kita berempat nggak kemana-mana. Rencananya main aja di rumah, nggak ke luar Bintaro. Sabtu pagi si kakak udah pamer-pamer. Pertama kali denger Ayah nggak ngeh, tapi waktu Dhiyaa nyanyi berulang-ulang Ayah baru sadar kalau Dhiyaa sudah bisa nyanyi ABCDE... secara lengkap. Terus, makin disuruh ulang, nyanyinya makin kenceng.
Malamnya, setelah Maghrib, si Kakak lagi-lagi bikin kejutan. Kali ini Kakak Dhiyaa menghitung 1 to 10 in English. Hebat! Ayah senang sekali.
Gurunya (Bunda) senyum-senyum aja lihat muridnya beraksi.
Kalau Akhyaar?
Oh, sekarang Akhyaar sudah bisa cium Ayah, Bunda + Kakaknya, cium tangan, dadahh, bilang jatuh, panggil kakak, kiss bye. Akhyaar juga sudah mulai mau main sendiri kalau di luar. Akhyaar juga paling histeris kalau lihat laptop Ayah. Buka tutup layarnya nggak pernah cukup sekali. Kalau bangun pasti lebih dulu dari kakaknya. Akhyaar masih belajar gosok gigi. Jadinya kalau gosok gigi mesti dipegangin. Gigi Akhyaar sudah banyak. Kemarin badannya sempet panas waktu salah satu giginya tumbuh. Gigi Akhyaar besar besar kayak Ayah. Akhyaar senang sekali diajak main petak umpet dalem rumah.
Sekarang Akhyaar dan Dhiyaa lagi bobo di kamar sama Bunda. Bangunin ah!
Thursday, February 28, 2008
1 stasiun = 40,000
Ternyata kalau diingat-ingat lagi, bulan Februari ini Ayah jarang sekali naik kereta terakhir. Bulan Februari ini kurang lebih adalah bulan yang tidak lebih hectic dari bulan Januari dan Desember (tahun kemarin). Bulan Februari ini Ayah jarang banget pulang malam.
Ayah duduk di dekat pintu. Ada bapak-bapak duduk di sebelah sambil merokok. Oh, please..... Hari gini di tempat umum masih merokok? Oke, maunya sih komplain lebih banyak. But this is not the story.
Nggak tahu kenapa (mungkin juga karena angin sepoi2 karena duduk dekat pintu), Ayah jadi ngantuk. Nggak lama setelah jalan dari stasiun Tanah Abang Ayah sudah tidur (hehehe, habis ingetnya ya itu). Ayah terbangun ketika ada suara khas stasiun. Pas mata dibuka, yang kelihatan adalah "Sudimara", stasiun dimana Ayah harus turun. Tapi kereta sudah jalan cepat. Ya ampun!!!! Stasiun-nya udah kelewat!
Nggak ada pilihan selain nunggu kereta sampai ke stasiun berikutnya. Rawa Buntu. Perjalanan kereta dari Sudimara ke Rawa Buntu sangat gelap (maklum, sudah hampir jam 9 malam). Sampai di Rawa Buntu nggak ada angkot or what so ever. Yang ada hanya banyak tukang ojek. Yang kurang menguntungkannya lagi (red: Sialnya lagi), kebanyakan tukang ojek nggak berani anter Ayah pulang ke Bintaro. Katanya: "Wah, saya nggak berani Pak". Cuma ada 2 orang. Dua-duanya kasih tariff 40 ribu. (cek compet): Ah, untung masih ada uang. :) Akhirnya jadi deh pulang naik ojek pakai tariff 40 ribu.
Pantes aja banyak tukang ojek nggak berani. Jalanannya kebanyakan masih tanah dan nggak ada lampu serta rumah. Cuma kebun-kebun dengan banyak pohon bambu.
Dan ternyata Ayah ingat sesuatu! ini adalah malem Jumat!
Si tukang ojek diem aja di depan. Terbayang-bayang film horor, Ayah berharap bahwa ini bukan tukang ojek jadi jadian. Hahahaha. Hari gini? Daripada bengong, Ayah coba lihat ponsel, ternyata masih ada sinyal. Mending telpon anak-anak di rumah. Yang angkat Bunda. Tapi Dhiyaa langsung take over. Dhiyaa mau bicara langsung dengan papi tercintanya ini. (wihhh senengnya). Kita (Dhiyaa dan Akhyaar di rumah -- Dan Ayah masih dalam kegelapan kebun yang nggak jelas itu) ngobrol ngalor ngidul dari soal naik sepeda, buku Bening sampai minum susu. Sebelum udahan ngobrolnya, Akhyaar sudah bisa "dadahhh dadaahhhh". Membayangkan mata lucunya itu, jadi tambah pengen cepet pulang
Akhirnya sampai di rumah. Ternyata kedua ananda dan istriku tercinta masih melek semua. Jadi sempet main-main lagi deh sebelum anak-anak berangkat bobo.
What a day!
Oh. Pagi tadi pada saat Dhiyaa bangun, Bunda menawarkan Dhiyaa untuk main sepeda ke luar. Apa katanya kemudian? Kata Dhiyaa seperti ini: "Tapi Dhiyaa belum mandi, Bunda".
:)
oh ya.
Story of February 2008

Tanggal 16 Februari pas ulang tahun om Arie, Dhiyaa dan Akhyaar main ke Taman Royal. Juga sekaligus nengok ade Malik. Awalnya mereka bertiga masih diam-diaman dan malu-malu, tapi lama-lama malah malu-maluin, hehehe. Ternyata ade Malik juga senang diphoto sama kaya Akhyaar.

Nach kalau yang satu ini diphoto sama Ayah waktu ade Malik mau nyium Dhiyaa. Hehehe, Dhiyaa tampangnya lucu banget...antara malu sama ngantuk karena waktu photo ini diambil juga pas udah malam.
Saturday, February 16, 2008
Me, Bunda and the kids.
Good to know that the blog is still there. Apparently Bunda is adding few new posts. What a long break since I posted mine back in mid 2007. Kemana aja ya? What happened?
Life is so dynamic and I consider myself as a dynamic person. Back in mid 2007, I decided to pursue another challenge in a new company. Larger team, broader responsibility, new technology areas and also brand new stakeholders. And Allah is just very generous. I have spent the last 7 months of handling a very good skillful and responsive team. Lots of works, a very challenging works. And it take huge amount of adaptations. Feel very blessed about the whole this.
And what has been happening with my family is even a greater bless for me. Both Dhiyaa and Akhyaar are growing very well. Dhiyaa loves Akhyaar so much. Dhiyaa is a caring sister. She exchanges toys with Akhyaar and they both love to play together. The two also enjoys playing in a water pool.
Dhiyaa is becoming more talkative. Her collections of words are increasing. She remembers things very well. One day (on Wednesday), Bunda informs Dhiyaa that her uncle is having birthday on Saturday. Bunda told Dhiyaa that they will be going to uncle’ house by car and might need to buy a cake in between. On Friday, Bunda again ask her whether we wants to come to her uncle birthday. She said: “Yes of course, Uncle Arie is having birthday and we will be going there by car. And please don’t forget to buy the cake, Bunda”. Dhiyaa, since her brother was born, knows exactly which toys belong to her and which ones belong to her brother. So sometimes when her brother wants to play with her toys, she quickly grab a toy (belong to her brother), and give it to him.
Akhyaar is now walking, started on just a week after his first birthday. Akhyaar loves to play outside with his small car, pushing it all around the house area like a trolley. He smiles to everyone and more loud than the sister. He likes water a lot. Never let the backdoor to the service area open. Otherwise he will walk there, grab everything he like and after that play with the water. He knows how to clap hands, shake hands, give me 5 and many others. Akhyaar likes to look at books, too. And when we read him a story, he is paying a full attention. He likes to play with Dhiyaa. And chasing cats, too. When I call home, not only Dhiyaa is talking but Akhyaar is now start to talk and scream on the phone.
And now, after Akhyaar is walking, we are planning for his first trip to Taman Safari. We hope he’s gonna like it. And after that, we are planning to go for a 4 days holiday. Maybe in Bali. It’s been 3 years since Ayah and Bunda last visit there. And next we will be coming with our children, our very first holiday off Java island.
Things are going very well. Alhamdulillah.
Ayah.


